Di dunia yang mengutamakan digital saat ini, hidup kita semakin terkait erat dengan teknologi dan media sosial. Dari notifikasi pagi hari hingga scroll larut malam, dunia digital telah menjadi teman sehari-hari. Namun di tengah lautan konektivitas dan kenyamanan ini, muncul pertanyaan penting—apakah kita menggunakan teknologi secara etis, terutama dari sudut pandang Islam?
Dalam Islam, setiap tindakan, baik yang bersifat publik maupun pribadi, dipandu oleh prinsip-prinsip Akhlak (akhlak baik), Niat (niat), dan Taqwa (kesadaran akan Allah). Hal ini juga berlaku dalam cara kita berinteraksi dengan teknologi dan media sosial.
Mari kita jelajahi seperti apa etika Islam di era digital dan bagaimana kita bisa menjaganya saat menjelajahi ruang online.

Prinsip Akuntabilitas (Mas'ooliyyah)
Al-Qur'an mengingatkan kita bahwa meskipun kita tidak mengekspresikan tindakan sehari-hari kita, Allah selalu mengetahui perbuatan kita, baik yang kita lakukan secara sembunyi-sembunyi maupun secara terbuka. Hal ini secara indah mencerminkan gagasan bahwa bahkan kata-kata digital kita—komentar, pesan, tweet—tetap berada di bawah pengawasan ilahi. Teknologi mungkin terasa tidak pribadi, tetapi dari sudut pandang Islam, setiap jejak digital itu penting.
Cara menerapkannya:
Sebelum berbagi, mengomentari, atau memposting, berhentilah sejenak dan tanyakan pada diri sendiri:
Apakah saya akan nyaman jika ini dibacakan pada Hari Kiamat?
Akuntabilitas itu seharusnya menjadi kompas penuntun kita.
Kejujuran dan Menghindari Misinformasi
Menyebarkan berita yang belum diverifikasi, gosip, atau konten sensasional sangat umum di dunia maya. Namun, Islam menempatkan kepentingan besar pada kebenaran.
"Hai orang-orang yang beriman, jika seorang pendosa membawa berita kepadamu, pastikan kebenarannya agar kamu tidak menzalimi orang secara tidak sadar, sehingga menyesali apa yang telah kamu lakukan." - Surah Al-Hujurat (49:6)
Etika dalam berbagi informasi harus berakar pada verifikasi dan integritas. Apakah itu topik yang sedang tren, tips kesehatan, atau nasihat agama—periksa dulu sebelum kamu klik.
Menghormati Privasi (Hurmat Al-Sirr)
Islam menghormati martabat dan privasi setiap individu. Mengintai, mengikuti secara diam-diam, atau membagikan informasi pribadi seseorang tanpa izin bukan hanya tidak etis—tetapi juga berdosa.
"Hai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan dari dugaan, karena sebagian dari dugaan itu dosa. Dan janganlah kamu saling mengintai dan menggunjing satu sama lain. Apakah salah seorang di antara kamu suka memakan daging saudaranya yang telah mati? Tentu kamu akan jijik kepadanya! Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Penerima Taubat, Maha Penyayang." - Surah Al-Hujurat (49:12)
Tips praktis: Jangan meneruskan tangkapan layar, membagikan pesan pribadi, atau mengganggu momen pribadi untuk hiburan digital. Nabi Muhammad ﷺ mengajarkan kita untuk menjaga privasi orang lain sebagaimana kita ingin privasi kita dihormati.
Menjaga Kesopanan di Dunia Visual

Di era video pendek dan swafoto, kesopanan menghadapi tantangan baru. Sementara Islam mendorong mengekspresikan diri dengan percaya diri, Islam juga menekankan haya (kesopanan) dalam berpakaian, berbicara, dan perilaku—baik online maupun offline.
Ini tidak berarti umat Muslim harus tidak terlihat secara online. Sebaliknya, kita harus sengaja dan hormat dalam mengekspresikan diri secara digital.
Nabi (ﷺ) lewat di dekat seorang lelaki yang menasihati saudaranya mengenai Haya' (rasa malu taat yang mencegah melakukan kesalahan agama) dan berkata, "Engkau sangat pemalu, dan aku khawatir itu bisa membahayakanmu." Mendengar itu, Rasulullah (ﷺ) bersabda, "Biarkan dia, karena Haya' adalah (sebagian dari) Iman." - Sahih al-Bukhari 6118 (Kitab 78, Hadis 145)
Apakah itu yang kita unggah atau yang kita konsumsi, kesopanan harus membentuk kebiasaan digital kita.
Menggunakan Teknologi sebagai Alat untuk Kebaikan (Khidmah)
Islam mendorong menggunakan apa yang kita miliki untuk memberi manfaat kepada orang lain.
Rasulullah SAW bersabda: "Mintalah kepada Allah ilmu yang bermanfaat dan berlindunglah kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat." - Sunan Ibnu Majah 3843
Jadi mengapa tidak menggunakan perangkat Anda untuk berbagi ilmu, menyebarkan kebaikan, atau membantu seseorang? Di situlah platform seperti Hakma berperan.
Hakma: Membina Kebiasaan Teknologi yang Etis pada Pengguna Muda

Di persimpangan antara teknologi dan etika Islami terdapat Hakma, sebuah platform pembelajaran yang dirancang khusus untuk anak-anak usia 4–12 tahun. Hakma memperkenalkan anak-anak pada nilai-nilai Islami, pengetahuan umum, dan etika melalui kuis interaktif, eBook, buku audio, Sparks (pengetahuan singkat), dan animasi.
Di saat anak-anak dibanjiri pesan campuran di internet, Hakma menonjol dengan menawarkan lingkungan digital yang aman, memperkaya spiritual, dan menyenangkan. Ini mengajarkan anak-anak bukan hanya fakta—tetapi juga bagaimana hidup secara etis, bahkan di layar.
Orang tua yang mencari pendekatan seimbang terhadap teknologi dan deen akan menemukan Hakma sebagai sekutu terpercaya dalam membesarkan warga digital yang sadar dan berhati baik. Lebih dari 30.000 orang tua memilih Hakma untuk anak-anak mereka.
Ingin memberikan anak Anda ruang digital yang menumbuhkan iman dan rasa ingin tahu mereka?
Jelajahi Hakma secara GRATIS!!
Tersedia untuk Android dan IOS.

